Halaman

PENELUSURAN

Sabtu, 03 Agustus 2019

KEGAGAHAN IMAM MALIK.

WA AMMAA BINI'MATI RABBIKA FAHADDITS.

Imam Malik bertubuh tinggi, besar dan suka berpakaian yang baik dan bersih. Namun beliau kerap berkata di hadapan orang banyak :" Cinta keduniaan itu menjadi pokok segala kesalahan".
Pada saat akan shalat Jum'at beliau berpakaian serba indah dan bagus. Kira-kira seharga lebih dari 100 dinar.

Pada satu jum'at beliau berjalan menuju masjid dan bertemu seorang kenalan ( Yahudi ) yang berkata :
" Wahai tuan guru! Saya heran melihat engkau. Saya kerap mendengar engkau menerangkan tercela dan hinanya orang yang cinta keduniaan dan kekayaan serta kemewahan hidup di dunia. Kini saya lihat engkau dalam keadaan sebaliknya. Pakaian yang engkau pakai itu semuanya menunjukkan bahwa engkau seorang yang cinta keduniaan dan suka kemewahan hidup di dunia ini, bukan?"

Imam Malik tersenyum dan berkata :
" Oh saudara. Benar aku sering mencela orang yang cinta keduniaan dan suka kemewahan hidup di dunia. Tetapi tidakkah saudara ingat, aku sering membacakan firman Allah " wa ammaa bini'mati rabbika fahaddits " ( adapun kepada kurnia Tuhanmu - Muhamnad -, maka hendaklah engkau ceriterakan!'). Jadi berpakaian seperti ini, tidak lain aku hendak menceriterakan, menyatakan dan memperlihatkan ni'mat kurnia Allah yang diberikan kepadaku. Saudara hendaknya jangan salah terima!".

Orang Yahudi seketika memalingkan muka dan beliau meneruskan perjalanan ke masjid.

Beliau berpakaian seakan-akan seorang hartawan besar, tampak seperti orang yang cinta kemuliaan dan suka kemewahan hidup dunia.

*sumber : " Biography Empat Serangkai Imam Mazhab"/K.H. Munawar Khalil, Penerbit Bulan Bintang, 1977.

Selasa, 30 Juli 2019

IMAM HANAFI TERHADAP BID'AH.

1. Hendaklah kalian mengikuti akan atsar ( bekas pimpinan orang terdahulu di masa Nabi dan para sahabat ); dan jauhkanlah pendapat-pendapat orang dalam urusan, walaupun dihiasi dengan kata-kata yang manis. Sesungguhnya urusan agama itu terang, gilang-gemilang. Dan kamu hendaknya di atas jalan yang lurus.

2. Jauhkanlah olehmu akan perbuatan bid'ah dan mencari-cari bid'ah serta melampaui batas dalam urusan agama. Hendaklah kamu mengikuti perkara-perkara yang awal ( mengikuti pimpinan Rasulullah saw ).

3. Hendaklah kamu mengikuti atsar, dan jauhilah olehmu akan tiap-tiap perkara baru, karena yang baru dalam urusan ibadah adalah bid'ah.

Jumat, 26 Juli 2019

IMAM HANAFI DAN HADITS.

IMAM HANAFI DAN HADITS.

Imam Hanafi bermimpi bahwa beliau telah menggali makam Rasulullah saw dan mengumpulkan tulang belulangnya.

Imam Yahya bin Nashar pernah menanyakan kepada beliau :" Apa ibarat mimpi itu?".

Beliau menjawab : " Mendengar keterangan dari selain saya itu lebih baik, maka tanyakanlah kepada orang lain".

Yahya bin Nashar mendesak :" Bagaimanapun juga saya ingin mendengar keterangan dari engkau sendiri tentang ta'bir mimpi itu".

Dengan ini maka beliau berkata :" Orang yang mimpi impian seperti itu akan menghidupkan ilmu pengetahuan yang telah dimatikan; dan atau menghidupkan Sunnah Nabi saw yang telah dipadamkan".

Dalam kenyataan, beliau adalah seorang alim besar yang amat cinta kepada sunnah Nabi saw dan ilmu hadits.

- Pesan beliau kepada para murid : "Jauhilah olehmu membicarakan urusan Agama Allah dengan kemauan fikiran, dan hendaklah kamu benar-benar ikut Sunnah Nabi saw, karena barangsiapa keluar dari Sunnah, tentu sesatlah adanya".

- Suatu hari seorang ahli ilmu dari Kufah datang ke rumah Imam Hanafi, sedang beliau baru membaca Hadits Nabi saw.
Tiba-tiba orang itu berkata :" Marilah kita meninggalkan Hadits itu, tidak perlu mengikutinya"

Seketika beliau sangat marah dan berkata :" Jika tidak ada Sunnah/Hadits, seseorang dari kita tidak akan dapat mengerti Al-Qur'an".

- Suatu hari Imam Hanafi ditanya : " Umumnya orang, dewasa ini tidak begitu suka mengamalkan pimpinan Hadits, padahal mereka suka mendengarkannya?"

Jawab beliau :" Mereka suka mendengar Hadits-Hadits Nabi saw. itu, berartilah mereka itu akan suka mengerjakannya".

- Imam Hanafi pernah berkata : " Tidak patut bagi seseorang, bila ia bicara perihal urusan agama, melainkan jika mengerti bahwa yang menerima syariat itu ialah Rasulullah saw".

- Imam Hanafi berkata :" Manusia tetap di dalam kebajikan, selama di kalangan mereka itu ada yang menuntut ilmu Hadits. Apabila mereka mempelajari ilmu apapun, tetapi tidak ada yang mempelajari ilmu Hadits, tentu binasalah mereka.

Rabu, 24 Juli 2019

KETEGUHAN JIWA IMAM HANAFY.


KETEGUHAN JIWA IMAM HANAFY.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Qadhy bin Ka'as.
Pada suatu hari Imam Abu Hanifah sedang di masjid, ketika itu jatuhlah seekor ular dari atap ke atas pangkuannya. Beliau tidak berubah wajahnya, tidak gentar dan tidak pindah dari tempatnya.

Bahkan beliau berkata :" Tidak akan ada bahaya menimpa kita, melainkan apa yang telah ditulis oleh Allah pada kita"
Perkataan ini sesungguhnya terambil dari ayat Al-Qur'an :" Qul lan yushibana illa ma katabal'Lahu lana".

Ular besar tadi lalu dipegang dengan tangan kiri beliau lalu dilemparkannya, dengan tidak membahayakan bagi beliau. Dengan tenang, beliau tetap ditempat duduknya.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang berjiwa teguh, berhati baja, pemberani, tidak gentar menghadapi sesuatu yang dianggap membahayakan oleh sebagian orang.
Bahwa beliau adalah seorang yang berjiwa teguh, berhati baja, berani, tidak takut menghadapi sesuatu yang berbahaya. Tidak takut menghadapi bahaya dalam nenegakkan kebenaran yang telah diyakini.

* sumber :" Biography Empat Serangkai Imam Mazhab"/K.H. Munawar Khalil/Penerbit Bulan Bintang 1977.

Senin, 22 Juli 2019

Kelapangan dada Imam Hanafi.

Isham bin Yusuf berkata :" Pada suatu hari ada seorang lelaki berdiri di halaman masjid, mencela dan nencaci maki Imam Abu Hanifah dengan mulutnya yang kasar dan tidak sopan.

Padahal beliau sedang mengajar di depan orang banyak di dalam masjid itu. Beliau tidak mengindahkannya dan tidak pula memalingkan muka kepada orang itu ; tidak menjawab sepatahpun, bahkan para sahabat dilarang menghadapkan muka ke orang itu.

Setelah beliau selesai mengajar, lalu berdiri dan pulang ke rumahnya tanpa mau menengok orang yang tak sopan tersebut. Orang itu mengikuti beliau dengan tidak berbuat sesuatupun.

Sesampai di depan pintu rumahnya, beliau memutar badan  menghadapkan muka kepada laki-laki tersebut.
Beliau berkata :" Ini rumahku. Maka bila kamu masih mempunyai kehendak mencaci maki aku, dan masih menyimpan perkataan-perkataan yang akan disampaikan kepadaku, katakanlah semuanya, agar kamu tidak menyimpan perkataan-perkataan yang kasar dan buruk itu!".

Lelaki itu merasa malu dan meminta maaf kepada beliau. Beliau memaafkannya.

* sumber : " Biography Empat Serangkai Imam Mazhab/K.H. Munawar Khalil", Bulan Bintang,1977.

Senin, 17 Juni 2019

Fudhail bin Iyadh.

Fudhail bin Iyadh.

Allah SWT berfirman:
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَن
ْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَـقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَا لَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

a lam ya`ni lillaziina aamanuuu an takhsya'a quluubuhum lizikrillaahi wa maa nazala minal-haqqi wa laa yakuunuu kallaziina uutul-kitaaba ming qoblu fa thoola 'alaihimul-amadu fa qosat quluubuhum, wa kasiirum min-hum faasiquun

"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan ( kepada mereka ) dan janganlah mereka ( berlaku ) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik."

QS. Al-Hadid ( 57 ): 16.

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Allah memberi pertaubatan kepada Al-Fudhail bin Iyadh dengan jalan tanpa sengaja ia mendengar ayat tersebut di atas.
Ia menjawab :" Tentu, sekarang waktunya".

Ia adalah ahli ibadah dan zuhud, Ulama dan wali. Lahir di Khurasan, lalu menetap di Mekah. Masa mudanya sebagai perampok. Wafat 187 H. ( al-Bidayah wa anl-Nihayah ).

*sumber :" Agar anda dicintai Allah swt, 10 kiat dari Al-Imam Ibn Qayyim ra/Abdul Azis Mustafa".

Selasa, 12 Maret 2019

DZIKIR

DZIKIR ( etimology ).

- bersumber dari kata : dzakara yadzkuru dzikran wadzukran : keadaan tidak diam tidak lupa.
- dzikir : maa zalaa dzaaka minni'ala dzikrin aw dzukrin ..... ( hal itu selalu dalam ingatanku .... ).
- dzikir : apa yang engkau ingat dan diucapkan oleh lisanmu lalu engkau tampakkan.
- dzikir dilakukan dengan hati : maa zala dzaaka minni'ala dzikrin ( hal itu selalu dalam ingatanku ), aku belum melupakannya ....
- dzikir bermakna kemuliaan dan kemasyhuran.

- Allah SWT berfirman: وَاِ نَّهٗ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ  ۚ وَسَوْفَ تُسْئَـلُوْنَ wa innahuu lazikrul laka wa liqoumik, wa saufa tus`aluun

"Dan sungguh, Al-Qur'an itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban."
QS. Az-Zukhruf ( 43 ): 44.

3 huruf dzal, kaf dan raa merupakan asal kata ini, berarti ingat. Digunakan dalam istilah dzikir dengan lisan. Lafazh ini juga dimaksudkan untuk sesuatu yang tinggi dan mulia berdasar qiyas.

Adz-dzikir, adz-dzikra, adz-dizkrah merupakan lawan kata dari lupa.

Dzikir juga berarti kemashyuran dan keagungan, seperti dalam firman Allah.

QS. Shaad ( 38 ) : 1. " Shaad, demi al-Qur'an yang mempunyai keagungan ".

Tadzakartuhu : aku mengingatnya. Adzajartuhu ghairi wa dzakartuhu : saya membuat orang lain ingat akan hal itu.

QS. Yusuf ( 12 ): 45.
" Dan teringat ( kepada Yusuf ) sesudah beberapa waktu lamanya".

Adz-dzikir bermakna menghapal sesuatu dan mengingatnya atau sesuatu yg mengalir di lisan.

Kesimpulan :
1. Dzikir : lawan kata lupa ( dengan hati atau dalam fikiran ).
2. Dzikir : apa yang mengalir di lisan.
3. Dzikir berarti kemuliaan dan kemasyhuran.

* Sumber : Dzikir bersama Nabi saw. / Abdurrahman Mahmud Khalifah.