Halaman

PENELUSURAN

Senin, 22 Juli 2019

Kelapangan dada Imam Hanafi.

Isham bin Yusuf berkata :" Pada suatu hari ada seorang lelaki berdiri di halaman masjid, mencela dan nencaci maki Imam Abu Hanifah dengan mulutnya yang kasar dan tidak sopan.

Padahal beliau sedang mengajar di depan orang banyak di dalam masjid itu. Beliau tidak mengindahkannya dan tidak pula memalingkan muka kepada orang itu ; tidak menjawab sepatahpun, bahkan para sahabat dilarang menghadapkan muka ke orang itu.

Setelah beliau selesai mengajar, lalu berdiri dan pulang ke rumahnya tanpa mau menengok orang yang tak sopan tersebut. Orang itu mengikuti beliau dengan tidak berbuat sesuatupun.

Sesampai di depan pintu rumahnya, beliau memutar badan  menghadapkan muka kepada laki-laki tersebut.
Beliau berkata :" Ini rumahku. Maka bila kamu masih mempunyai kehendak mencaci maki aku, dan masih menyimpan perkataan-perkataan yang akan disampaikan kepadaku, katakanlah semuanya, agar kamu tidak menyimpan perkataan-perkataan yang kasar dan buruk itu!".

Lelaki itu merasa malu dan meminta maaf kepada beliau. Beliau memaafkannya.

* sumber : " Biography Empat Serangkai Imam Mazhab/K.H. Munawar Khalil", Bulan Bintang,1977.

Senin, 17 Juni 2019

Fudhail bin Iyadh.

Fudhail bin Iyadh.

Allah SWT berfirman:
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَن
ْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَـقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَا لَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

a lam ya`ni lillaziina aamanuuu an takhsya'a quluubuhum lizikrillaahi wa maa nazala minal-haqqi wa laa yakuunuu kallaziina uutul-kitaaba ming qoblu fa thoola 'alaihimul-amadu fa qosat quluubuhum, wa kasiirum min-hum faasiquun

"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan ( kepada mereka ) dan janganlah mereka ( berlaku ) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik."

QS. Al-Hadid ( 57 ): 16.

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Allah memberi pertaubatan kepada Al-Fudhail bin Iyadh dengan jalan tanpa sengaja ia mendengar ayat tersebut di atas.
Ia menjawab :" Tentu, sekarang waktunya".

Ia adalah ahli ibadah dan zuhud, Ulama dan wali. Lahir di Khurasan, lalu menetap di Mekah. Masa mudanya sebagai perampok. Wafat 187 H. ( al-Bidayah wa anl-Nihayah ).

*sumber :" Agar anda dicintai Allah swt, 10 kiat dari Al-Imam Ibn Qayyim ra/Abdul Azis Mustafa".

Selasa, 12 Maret 2019

DZIKIR

DZIKIR ( etimology ).

- bersumber dari kata : dzakara yadzkuru dzikran wadzukran : keadaan tidak diam tidak lupa.
- dzikir : maa zalaa dzaaka minni'ala dzikrin aw dzukrin ..... ( hal itu selalu dalam ingatanku .... ).
- dzikir : apa yang engkau ingat dan diucapkan oleh lisanmu lalu engkau tampakkan.
- dzikir dilakukan dengan hati : maa zala dzaaka minni'ala dzikrin ( hal itu selalu dalam ingatanku ), aku belum melupakannya ....
- dzikir bermakna kemuliaan dan kemasyhuran.

- Allah SWT berfirman: وَاِ نَّهٗ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ  ۚ وَسَوْفَ تُسْئَـلُوْنَ wa innahuu lazikrul laka wa liqoumik, wa saufa tus`aluun

"Dan sungguh, Al-Qur'an itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban."
QS. Az-Zukhruf ( 43 ): 44.

3 huruf dzal, kaf dan raa merupakan asal kata ini, berarti ingat. Digunakan dalam istilah dzikir dengan lisan. Lafazh ini juga dimaksudkan untuk sesuatu yang tinggi dan mulia berdasar qiyas.

Adz-dzikir, adz-dzikra, adz-dizkrah merupakan lawan kata dari lupa.

Dzikir juga berarti kemashyuran dan keagungan, seperti dalam firman Allah.

QS. Shaad ( 38 ) : 1. " Shaad, demi al-Qur'an yang mempunyai keagungan ".

Tadzakartuhu : aku mengingatnya. Adzajartuhu ghairi wa dzakartuhu : saya membuat orang lain ingat akan hal itu.

QS. Yusuf ( 12 ): 45.
" Dan teringat ( kepada Yusuf ) sesudah beberapa waktu lamanya".

Adz-dzikir bermakna menghapal sesuatu dan mengingatnya atau sesuatu yg mengalir di lisan.

Kesimpulan :
1. Dzikir : lawan kata lupa ( dengan hati atau dalam fikiran ).
2. Dzikir : apa yang mengalir di lisan.
3. Dzikir berarti kemuliaan dan kemasyhuran.

* Sumber : Dzikir bersama Nabi saw. / Abdurrahman Mahmud Khalifah.

Kamis, 21 Februari 2019

Umar Bin Khattab ( 4 ).

* Buah belajar karena Allah.

Belajar karena Allah itu dapat berbuah kekhusyukan dan dan takut kepada-Nya.
Bill rasa takut tidak tumbuh, menunjukkan hati telah lalai. Rasa takut merupakan buah ilmu. Berharap adalah buah keyakinan.

Orang yang menginginkan surga pasti berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Begitu juga orang yang takut neraka pasti berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. 

Rasa cinta dan benci itu mempunyai tanda. Orang yang kita dapati melakukan amalan penduduk surga, menunjukkan dia sudah yakin. Orang yang kita dapati melakukan perbuatan penghuni neraka, menunjukkan bahwa dia masih dalam keragu-raguan 

Jika kita mendapati seseorang berjalan membelakangi Mekah, kemudian mengaku ingin menunaikan ibadah haji, kita tidak mungkin mempercayainya.
Begitu juga bila kita menemukan orang itu menjadi imam di Mekah, kemudian berkata tidak ingin menunaikan ibadah haji, kita juga tidak mungkin membenarkannya.

* Jangan binasakan diri sendiri.

Saudaraku, jangan sampai membinasakan diri sendiri. Siapa yang menanam, dialah yang memetik.
Jangan sia-siakan waktu luang. Setiap perbuatanmu pasti dicatat dan dikembalikan kepadamu.
Bila kamu terlanjur berbuat jahat, segera ikuti dengan perbuatan baik. Yang aku tahu, perbuatan yang harus didahulukan adalah segera berbuat baik setelah berbuat dosa.

* Sumber kefakiran.

Ada 3 perkara yang menjadi sumber kefakiran.
Pertama : tetangga yang ketika melihat kebaikan, dia diam saja. Sebaliknya bila melihat keburukan dia menyebarkannya.
Kedua : perempuan yang lidahnya selalu menyakiti anda, dan ketika anda meninggalkannya, dia tidak bisa dipercaya.
Ketiga : penguasa yang ketika anda berbuat kebaikan kepadanya, dia tidak menghargai. Jika anda melakukan kesalahan, dia membunuh anda.

* Mencintai atau membenci sewajarnya.

Jangan terlalu mencintai hingga membabi buta. Jangan pula terlalu membenci hingga menghilangkan kebenaran.

sumber : Mutiara Hikmah Kekasih Rasul,  Hani Al-Hajj.

dituliskan menggunakan blogit.


Sabtu, 16 Februari 2019

Umar Bin Khattab ( 2 )

* Mengharapkan pahala Allah.

Pesan Umar r.a :" Saudaraku, seseorang pernah datang kepadaku, dia adalah orang yang senang membaca al-Qur'an. Aku Kira ia membaca karena mengharap pahala Allah, ternyata dugaanku keliru.

Ada sekelompok orang yang membaca al-Qur'an karena mengharap balasan dari orang lain.
Jangan kalian lakukan hal seperti itu. Carilah ridha Allah dengan amal-amal kalian.

Aku mengenal kalian waktu wahyu turun dan Nabi masih ada di antara kita. Sekarang wahyu sudah terputus dan Nabi telah tiada. Aku mengenal kalian dengan apa yang kusampaikan kepada kalian.

Siapa saja yang memperlihatkan kebaikan kepada kita, kita pasti menduganya sebagai orang yang baik dan kita segera menyanjung kebaikkannya.
Sebaliknya siapa saja yang memperlihatkan keburukan, kita pasti menduganya sebagai orang yang tidak baik dan kita segera mengutuknya.
Kendalikanlah dan tundukkanlah hawa nafsu ini. Nafsu seperti ini selalu mengajak kepada kejahatan.

Kebenaran itu sangat berat dan pahit. Sementara kebathilan sangat ringan dan manis. Menghindari perbuatan salah jauh lebih baik daripada menyesalinya dengan taubat. Ingatlah, menuruti hawa nafsu sesaat hanya membuahkan penyesalan berlarut-larut.

Umar bin Khattab (1).

* Siapa pemikul dosaku?

'Umar bin Khattab ra pernah memikul sekarung tepung untuk dibagikan kepada orang fakir. Sebagian sahabatnya berkata :" Biarkan saya yang memikul tepung ini ".
Umar menjawab :" Kalau begitu, siapa yang akan memikul dosa-dosaku pada Hari Kiamat?".


* Jangan takut mati.

" Tinggalkanlah setiap perbuatan yang membuat anda benci menghadapi kematian. Dengan demikian anda selalu siap menghadapi kematian itu".


* Pemimpin bertakwalah kepada Allah.

" Pemimpin yang berusaha menjauh, pasti dijauhi rakyatnya. Dan, orang yang paling sengsara adalah pemimpin yang menyengsarakan rakyatnya".


* Pencari dunia dan Pencari akhirat.

" Manusia terdiri 2 golongan. Pertama, pencari dunia. Golongan ini sebaiknya dijauhi. Bisa jadi setelah dia mendapatkan apa yang dia cari, dia malah celaka. Atau apa yang dicari itu tak tercapai, dan dia mati dalam buaian angan-angannya.
Kedua, pencari akhirat. Jika kalian melihatnya, maka berlombalah dengannya.





Umar Bin Khattab ( 3 ).

* Bangga dengan pendapat sendiri.

Yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah bangga terhadap pendapat sendiri.
Ketahuilah orang yang mengaku sebagai orang cerdas sebenarnya adalah orang yang sangat bodoh. Orang yang mengatakan dirinya pasti masuk surga, dia akan masuk neraka.

* Nilai seseorang .

Nilai seseorang dilihat dari agamanya. Dasarnya adalah akal, dan wibawanya terletak pada akhlak.

* Jangan tertipu.

Jangan pernah tertipu oleh teriakan seseorang. Tapi akuilah orang yang menyampaikan amanah dan tidak menyakiti orang lain dengan tangan dan lidahnya.

Kalian jangan sampai tertipu oleh puasa dan shalat seseorang. Tapi perhatikan kejujuran, amanah dan wara'nya.

* Hidup bermasyarakat.

Aku tidak mungkin menyiksa orang yang durhaka kepada Allah seperti orang yang patuh dan taat.
Ambillah hikmah dari perilaku saudaraku. Jangan pernah mengira satu kalimatpun yang diucapkan seorang Muslim sebagai kejahatan, karena di dalamnya pasti ada kebaikan yang tersembunyi.

Jangan pernah menganggap enteng sumpah. Kalau kalian tetap melakukannya, Allah pasti menghinakan kalian.

Jangan pernah mengurus sesuatu yang tidak bermanfaat. Jangan banyak bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, hanya membuang waktu dan merepotkan.

Jangan pernah mencari musuh. Hati-hatilah dengan saudaramu, kecuali saudara yang jujur. Saudara yang jujur adalah yang takut kepada Allah 

Khusyuklah ketika ziarah kubur. Merasa rendahlah ketika beribadah. Jika terlanjut 
bermaksiat, segeralah bertobat. Selalu bermusyawarahlah dengan orang-orang yang takut kepada Allah dalam segala urusan.

Sumber :" Mutiara hikmah Kekasih Rasul", Hani Al-Hajj.

ditulis menggunakan Blogit.